desember 2008,
Berjalan meraba, memaksaku untuk selalu siap merasakan sakit. Bahkan saat mulai melangkahpun rasanya sudah terawali.
Jauh kucoba menembus dentuman, melihat kedalaman hatimu. Kupaut rasa untuk mencoba merasakan desiran jantung apimu yang menyala redup tiba-tiba. Airku meneteskan perih, pada guratan untaian bermakna, napasku sesak dan langkahku lunglai merayap dinding-dinding dingin tanganku yang bergetar. Sepiku menyempurna…lukaku membasah, tak tahan akhirnya ku terkapar juga..
Kubuka mata, seuntai senyuman disana..menawarkan seteguk air kehidupan atas dahagaku yang tak mampu lagi kurasa. Mulutku terkunci bisu, pandanganku nanar hampa, kosong.. tak ada lagi keindahan suara dawai yang biasa bergema..datar, mati.
Dia kembali mendekat, menyodorkan air itu dan membantuku meminumnya. Aliran air mungkin telah membasahi kerongkonganku, tapi aku tak merasakan apa-apa. Cawan itu masih kupegang, ekspresiku tidak berubah. Dibelainya kepalaku dengan kelembutan mungkin, sessaat kemudian aku menoleh kepadanya, mencari tanya disana. Beraninya dia menyentuhku, pikirku. Emosiku sudah mulai berkerja, dan aku bisa merasakan ini sebuah ketulusan. Terimakasih kataku lirih.
Miss U,
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar